Tafakur in The Cyber World

November 14, 2005

Pergi Tak Kembali

Filed under: sastra

Pergi Tak Kembali

Setiap insan pasti merasa
Saat perpisahan terakhir
Dunia yang fana akan ditinggalkan
Hanya amalan yang dibawa

Terdengar sayup surah dibaca
Sayunya alunan suara
Cemas di dada…lemah tak bermaya
Terbuka hijab di depan mata

Selamat tinggal pada semua
Berpisahlah kita selamanya
Kita tak sama nasib di sana
Baikkah atau sebaliknya

Amalan dan takwa jadi bekalan
Sejahtera bahagia pulang…ke sana

Sekujur badan berselimut putih
Rebah bersemadi sendiri
Mengharap kasih anak dan isteri
Apa mungkin pahala dikirim

Terbaring sempit seluas pusara
Soal-bicara terus bermula
Sesal dan insaf tak berguna lagi
Hancurlah jasad dimamah bumi

Berpisah sudah segalanya
Yang tinggal hanyalah kenangan
Diiring doa dan air mata
Yang pergi takkan kembali lagi

Filed under: lain-lain

Bagaimana kalau saya sudah terinfeksi Rontokbro

Pembersihan Rontokbro sebaiknya dilakukan melalui “safe mode” karena jika mencoba pembersihan melalui mode “normal” komputer akan langsung restart begitu komputer dijalankan.

1.

Lakukan pembersihan melalui “safe mode”

2.

Scan komputer dengan Norman Virus Control update terakhir. Bagi anda yang belum neggunakan Norman Virus Control, silahkan download ke http://www.norman.com/Download/Trial_versions/en-us (jangan lupa masukkan email anda yang valid untuk menerima License Trial) dan bersihkan semua file yang terdeteksi sebagai W32/Rontokbro@mm dan variannya (lihat gambar 2)

Gambar 2, Norman Virus Control dapat mengenali W32/Rontokbro@mm dan variannya

3.

Untuk mengaktifkan kembali fungsi registry editor hapus value:
*

DisableRegistryTools =1

HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\System

Untuk lebih mudahnya gunakan tools dari HijackThis, tools tersebut dapat

didownload dialamat :

http://www.spywareinfo.com/~merijn/downloads.html

Setelah dijalankan, cari option HKCU\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies, DisableRegedit=1, kemudian klik [Fix checked] (Lihat Gambar 3)

Gambar 3, Gunakan HijackThis untuk membuka blokir regedit.exe yang dilakukan oleh Rontokbro

Hapus registri :

*

Bron-Spizaetus
HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Run
*

Tok-Cirrhatus
HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Run
*

Disable CMD=0
HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\System

Untuk mengembalikan option [Folder option] pada windows explore, hapus string registry:

*

NoFolderOptions=dword:00000001
pada registry key

HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer

4. Hapus opsi pada menu [Startup] pada msconfig

o

NorBtok
o

Smss
o

Empty

Hapus Schedule Task yang dibuat oleh W32/RontokBro.B

o

Buka [Windows Explorer]
o

Klik [Control Panel]
o

Klik 2 kali [Schedule Tasks]

Filed under: renungan

Menatap Ayat-Ayat Allah
Oleh : KH Abdullah Gymnastiar
“Marilah saat ini kita jadikan saat dimana mata ini menatap lebih banyak lagi ayat-ayat Allah, kita perbanyak tilawah Al Qur’an dengan kedalaman hati. ”

Saudaraku yang budiman, setelah menikmati indahnya bulan ramadhan, maka inilah saatnya kita belajar memandang sesuatu agar apapun yang kita pandang menjadi pembuka hati kita. Diantaranya adalah marilah saat ini kita jadikan saat dimana mata ini menatap lebih banyak lagi ayat-ayat Allah, kita perbanyak tilawah Al Qur’an dengan kedalaman hati karena Insya Allah andaikata kita sudah terbiasa membacanya dan cinta kepada Al Qur’an maka Al Qur’an pun akan mencintai kita, dia akan menagih. Dan tiada senikmat-nikmat bacaan selain membaca Al Qur’anul Karim. Subhanallah.

Selanjutnya, sebaik-baik bacaan sesudah bacaan Al Quran adalah membaca ilmu, ilmu yang mana ? yaitu ilmu yang bisa membuat kita mengenal Allah SWT, ilmu yang membuat kita bisa mengenal diri, ilmu yang membuat kita mengenal jalan menuju Allah. Oleh karena itu siapapun yang matanya sangat jarang membaca, maka tidak usah heran dirinya akan dibelenggu oleh kebodohan dan kebodohan itu adalah bagaikan sebuah rantai yang membuat kita tidak bisa bergerak.

Kita pun harus menatap keagungan Allah lainnya ; langit, bumi dan segala isinya Artinya ; (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Al Imran 191)

Saudara-saudaraku sekalian ayat di atas mengungkapkan betapa, berdiri duduk dan berbaring dengan melihat seisi alam ini akan membuat kita menyadari bahwa segala-galanya hanyalah milik Allah, andai kita melihat apapun membuat kita senantiasa dekat pada Allah. Wallahu a’lam bish

November 10, 2005

memaknai iedul fitri

Filed under: renungan

“Nikmat bertakbir dan bertahmid ini tak bisa
dibeli dengan uang berjuta-juta, tidak dengan
hidangan dan minuman yang serba menggiurkan,
apalagi dengan gemuruhnya bunyi petasan, dan
cara-cara pemborosan yang sia-sia, yang terlarang
oleh agama kita. ”

Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Laa illaha illa’llah
Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Wa-li’llahil hammdu !

Maha Besar Allah………..Tidak ada Tuhan,
melainkan Allah…….. Dan kepada Allah tertuju
segala puji dan syukur………

Alhamdulillah. Insya Allah sekali lagi kita dapat
menjumpai Hari Raya Idul Fitri. Kita sambut hari
yang mulia ini dengan takbir dan tahmid. Ratusan
juta ummat Islam yang bertebaran di seluruh dunia
mengumandangkan kalimah takbir dan tahmid ini
bersama-sama, serentak beralun, penuh khidmat.

Nikmat bertakbir dan bertahmid ini tak bisa dibeli
dengan uang berjuta-juta, tidak dengan hidangan
dan minuman yang serba menggiurkan, apalagi dengan
gemuruhnya bunyi petasan, dan cara-cara pemborosan
yang sia-sia, yang terlarang oleh agama kita.
Kelezatan bertakbir dan bertahmid hanya akan
didapat dengan hubungan rohani yang suci-murni,
kepada pertalian batin yang langsung antara mahluk
dan Khaliqnya.

Setiap tahun Idul Fitri mengunjungi kita. Dan kita
menyambutnya dalam keaadan dan suasana yang kerap
berbeda. Ia pernah datang di waktu kita sedang
dijajah bangsa lain, di saat perjuangan memcapai
kemerdekaan, atau krisis ekonomi. Dan kini, Idul
Fitri menghampiri kita di saat jumlah penduduk
miskin bangsa indonesia terus bertambah sebagai
akibat melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM).

Namun meskipun begitu, dalam keadaan apapun juga,
teriakan jiwa ummat Muhammad SAW dalam menyerukan
takbir dan tahmid tetap saja tak akan ada yang
mampu menahannya.

Mari kita sambut dan rayakan Idul Fitri tahun ini
dengan penuh rasa syukur dan qanaah. Yakni dengan
merasa bahagia dengan apa yang ada, bersih
daripada cara-cara yang berlebih-lebihan. Mari
kita cari kebahagiaan berhari raya dengan
memberikan sebagian dari harta kita kepada
saudara-saudara kita yang lemah, yang berhak
atasnya. Entah berupa zakat fitrah ataupun shadaqah.

Karena Islam memang menuntun kita, untuk mencari
dan merasakan kebahagiaan dengan mencetuskan rasa
bahagia dalam qolbu sesama manusia, yakni dengan
memberi. Apapun bentuknya pemberian itu.

***

Dalam sebuah riwayat pernah disebutkan, pada salah
satu hari raya Idul Fitri, Rasulullah SAW melihat
seorang anak sedang berdiri sendirian dengan muka
yang sedih, menahan air mata yang sedang
berlinang. Padahal dari kejauhan, teman-teman
sebayanya sedang bergembira ria merayakan Idul
Fitri, berpakaian baru pembelian ayah, menikmati
masakan lezat buatan Bunda.

Memang sudah agak lama anak kecil itu hidup
sebagai anak yatim piatu. Tetapi pada saat-saat
seperti hari raya, alangkah pedih rasanya, melihat
orang lain bergembira ria, serba cukup. Namun ia
sendiri harus kehilangan ayah sebagai tempat
meminta, bunda tempat mengadu, dan tak ada rumah
untuk tempat pulang

Rasulullah kemudian menghampiri bocah cilik itu
dan kemudian bertanya : Kenapa engkau berdiri
sendirian di sini, tanya beliau. Di manakah
rumahmu? lanjut beliau. Tidak ada, katanya,
aku yatim piatu, ujarnya.

Mendengar tuturan bocah ini Rasulullah sekan
terkunci kerongkongannya, tak dapat menjawab.
Hanya air matanya yang bercucuran.

Rasulullah kemudian meletakan telapak tangan
kanannya di atas kepala anak yatim itu. Dengan
suara penuh cinta kasih, beliau bertanya : Maukah
engkau, bila Aisyah menjadi ibumu, dan Muhammad
menjadi bapakmu, dan tempat tinggal Rasulullah
jadi rumahmu ?

…….Alangkah bahagianya sang bocah, mendengar
kata-kata Rasulullah, yang diucapkan dengan
spontan dan penuh mesra itu. Dia serasa bukan
yatim lagi. Dia sudah mempunyai ibu dan bapak
kembali. Ia belum menerima apa-apa berupa materi.
Tapi dia sudah menerima sesuatu yang tidak
ternilai harganya.

Dan alangkah bahagianya Rasulullah sendiri tatkala
melihat si yatim segera menghapus air matanya, dan
mengucap syukur dengan wajah tersenyum bergembira
berseri-seri.

***

Maka, pada hari baik dan bulan baik ini, dan
seterusnya, marilah kita sama-sama mengikuti
contoh yang diberikan oleh Rasulullah SAW.
Ingatlah bahwa nilai hakiki dari satu pemberian
tidaklah semata-mata ditentukan oleh besar atau
kecilnya harga materi yang diberikan. Anjuran
memberi shadaqah itu bukan pada Idul Fitri saja,
namun juga pada hari-hari sesudahnya.

Seorang ulama besar tanah air, Alm. KH Moh Natsir,
dalam sebuah Khutbahnya di proyek Senen pada tahun
1971, berpendapat bahwa Shadaqah itu sendiri bukan
tujuan, tapi adalah alat. Tujuannya lebih luas,
dan lebih mendalam daripada sekedar relief, atau
mengurangi penderitaan sesama manusia
sewaktu-waktu perlu.

Tujuan shadaqah menurutnya, mengembangkan satu
kekuatan batin dalam pribadi yang bersedekah yang
bernama rasa kemanusiaan, syu’ur insani, yang
selain dari mempertinggi martabatnya sebagai
manusia, juga merupakan sumber kebajikan yang
aktif, dan mampu menjalin kesatuan kehidupan
bermasyarakat, dengan tali cinta kasih dan
persaudaraan. Itulah fungsi dari shadaqah dalam
kehidupan sosial, sebagaimana yang ditekankan oleh
Rasulullah SAW.

Mudah-mudahan pada Idul Fitri 1426 H ini, kita
semua tak hanya sibuk untuk mempersiapkan mudik ke
kampung halaman, berbelanja pakaian baru, atau
menghidangkan beraneka macam makanan. Namun juga
kita merasa terpanggil dan merasa bahagia untuk
memberikan sesuatu kepada saudara-saudara kita,
dan berlomba-lomba untuk menjadi insan yang paling
bermanfaat bagi orang lain. Wallahu a’lam.

renungan iedul fitri

Filed under: renungan

Bagi seseorang yang khusyuk dalam ibadah hajinya
tentu akan merasa sedih, disaat tiba waktunya
melaksanakan thawaf wada. Setiap selesai satu
keliling dada bertambah penat, air mata
menggenang, sebab sebentar lagi diri akan
meninggalkan tanah haram, untuk kembali ke kampung
halaman. Langkah Pak Haji menjadi berat disaat
akan berlalu dari Masjidil Haram. Pandangnya
seakan tak mau lepas dari menatap Kabah, dan
sebelum kaki benar-benar melangkah keluar dari
batas babussalam, tak henti-hentinya dia menoleh
ke belakang.

Semakin jauh jarak pandang Pak Haji dari Kabah,
semakin tak keruan perasaan, semakin meluap-luap
keharuan yang memenuhi ruang dadanya. Tasbih dan
doa tertulus yang pernah saya gumamkan adalah pada
saat ketika dan selesai melaksanakan thawaf
wada.lirih ceritanya pada seorang reporter.Dan
perpisahan yang paling berat buat saya adalah
perpisahan dengan Kabah dan tanah haram.

Bagi mereka yang khusyuk dalam shaum dan qiyamul
lail-nya pasti juga merasakan sedih, mengingat
bulan Ramadhan yang akan segera mencapai
penghujungnya. Diatas sajadah masjid tempat
itikaf, mereka akan banyak menangis, mengenang
detik-detik yang seakan terlalu cepat berlalu,
dalam bulan suci nan syahdu yang datangnya cuma
setahun sekali ini. Makin berat dada mereka,
disaat tersadar, bahwa tahun depan belum tentu
masih ada umur dan kesempatan, sehingga mereka
bisa mengulang lagi kebersamaan ibadah, kemesraan
berkhalwat dengan Allah, sebagaimana bulan
Ramadhan kali ini.

Kalau sudah begitu apalah arti baju baru, makanan
enak dan serba persiapan menjelang Lebaran.
Apalah pula arti belanja, mudik bahkan kemeriahan
di hari Lebaran, bila belum-belum mereka sudah
merindukan kedatangan Ramadhan, berharap Allah
memberikan umur lagi untuk syahrul mubarak berikutnya.

Idul Fitri pada hakikatnya disediakan Allah untuk
mereka yang rindu bertemu dengan Ramadhan
berikutnya. Rindu bertemu Ramadhan berarti rindu
berjumpa Allah, karena hakikatnya pula
ibadah-ibadah yang disunnahkan pada
syahrur-Ramadhan itu tujuannya untuk mendekatkan
diri kepada Allah. Idul Fitri tidak diadakan untuk
mereka yang lalai beribadah, sebagaimana bunyi
puisi Arab : Laysalied liman labisal jadid,
walakinnalied liman amaluhu tazid yang artinya
: Hari raya diadakan bukan untuk orang yang
berpakaian baru, ia diadakan untuk orang yang
senantiasa bertambah amal salehnya. Namun
ironisnya, justru mereka yang kerap melalaikan
shaum, mangkir tarawih dan malas tadarus-lah yang
berhura-hura, seolah merayakan kemenangan, setiap
tiba hari Lebaran.

Bila Lebaran diadakan untuk mereka yang rindu
berjumpa dengan Allah, tentu perayaannya harus
dilakukan secara khusyuk, penuh kerendahan hati.
Jika ada saatnya menikmati hidangan istimewa atau
gelak tawa dikala silaturrahmi, itupun semata-mata
hanya sebuah momen untuk menambah ungkapan syukur,
atas limpahan berkah dan rahmat-Nya yang sungguh
tak terkira, dikala sebelum, sedang dan sesudah
kita merayakan Idul Fitri kelak. Maka ziarah
kuburpun- bagi sebagian orang yang kerap
melakukannya saat Lebaran- akan menjadi sebuah
saat permenungan, bahwa kitapun kelak tak akan
pernah merayakan Lebaran lagi, menikmati ibadah
Ramadhan lagi, sebagaimana mereka yang telah pergi.

Akhirul kalam, selamat merayakan hari kemenangan,
sahabat. Semoga kita suka merayakannya dengan
khusyuk, dengan fitri, dengan penuh kerendahan
hati. Tak pantas kita berfoya-foya ditengah jumlah
rakyat miskin yang kian bertambah. Tak layak bagi
kita berlebih-lebihan, ketika sepiring ketupat
telah menjadi makanan mewah buat sebagian kaum papa.

kegagalan menumbuhkan empati

Filed under: renungan

assalam ‘alaykum wr wb…

Alkisah di sebuah sekolah dasar, tercatatlah seorang
siswa kelas satu.
Sebut namanya Bakar. Ia anak konglomerat ternama.

Bukan cuma bapaknya yang pedagang besar. Kakek
moyangnya pun demikian.
Mereka adalah rezim saudagar terkenal sejak era abad
pertengahan. Ketika
Pires berkata, ‘’Tuhan menciptakan Timor untuk pala,
Banda untuk lada,
dan Maluku untuk cengkih,'’ di sanalah kakek moyang
Bakar berperan.

Bakar masih menikmati warisan kebesaran itu. Ia
bersekolah di SD
unggulan berstandar internasional dan bilingual,
sekitar 2 kilometer
dari rumah (mobil senilai Rp 1 miliar yang ia pakai
hanya mencatatkan
perjalanan 4 kilometer setiap hari). Seorang sopir dan
‘’baby sitter'’
mengantar dan menungguinya setiap hari saat ia
belajar.

Laiknya sekolah mahal dan unggulan lainnya, mengarang
adalah pelajaran
yang diposisikan amat penting di SD tersebut.
Anak-anak didik, sejak
kelas satu, sudah dilatih untuk mengekspresikan isi
kepala mereka dengan
kata-kata yang tertata baik, namun dengan isi yang
mencerminkan
kebebasan pikiran.

Sampailah, suatu ketika, sang guru meminta siswa kelas
I membuat
karangan tentang kehidupan keluarga yang sangat miskin
di seberang
benteng sekolah. Sang guru, yang berasal dari
keluarga menengah,
berharap dapat menumbuhkan empati anak-anak didiknya
yang serba berada
terhadap nasib kelompok lain yang tak berpunya. Bakar
masih kelas satu
SD. Tapi, ia penulis yang andal. Ia sefasih bapaknya
saat harus
melontarkan kata-kata. Ia pun secerdas ibunya saat
harus membuat
hitung-hitungan dan perbandingan.

Ia menulis, seperti saran gurunya, dengan penuh
perasaan. ‘’Menulislah
dengan hati,'’ begitu kata-kata sang guru yang selalu
ia ingat. Lalu,
dengan sesekali menerawang dan membayangkan kehidupan
keluarga miskin,
Bakar menggoreskan pinsilnya dengan huruf-huruf yang
belum sempurna
benar. Ia menamai tokoh dalam karangannya sebagai Pak
Abu.

‘’Pak Abu,'’ tulisnya, ‘’adalah orang yang sangat
miskin. Benar-benar
miskin, sampi-sampai pembantunya juga miskin, sopirnya
miskin, dan
tukang kebunnya pun miskin.”'’Karena sering tak punya
uang, Pak Abu
jarang membersihkan kolam renang di rumahnya. Ia juga
hanya bisa
memelihara ikan-ikan kecil di akuarium seperti lou han
yang makannya
sedikit, tidak seperti arwana dan koi di rumahku.
Kucing siam punya Pak
Abu juga kurus, soalnya kurang makan. Ayam yang ia
pelihara juga yang
kecil-kecil, jenis kate.'’

Bakar yang berpikir bebas menulis karangannya itu
dengan penuh haru. Ia
sesekali mengernyitkan dahi. Ia berpikir dirinya tak
mungkin bisa
menanggungkan kemiskinan seperti yang terjadi pada
keluarga Pak Abu.
Alangkah malangnya keluarga Pak Abu, pikirnya.
Jangan-jangan
anak-anaknya harus berebut saat bermain PS2, karena
alat permainan itu
hanya ada satu di ruang keluarga. Lain dengan di
rumahnya, setiap kamar
ada. Di kamar Bakar, di kamar kakak-kakaknya, bahkan
di kamar
ibu-bapaknya .

Sopir dan pembantu Pak Abu pun, pikirnya, pasti sedih
karena tidak
seperti pembantu dan sopir dirinya. Bakar
membandingkan handphone yang
dipegang sopir dan pembantu Pak Abu mungkin jenis
monophonic yang
ketinggalan zaman, lain dengan handphone pembantu dan
sopirnya yang
polyphonic dan bisa kirim MMS.

Ia membayangkan kepala urusan dapur di rumah Pak Abu
mungkin hanya bisa
belanja di pasar yang becek atau supermarket kecil di
perempatan jalan.
Padahal, pembantu di rumahnya sangat biasa berbelanja
ke hypermarket
Prancis dan mal-mal. ‘’Anak-anak Pak Abu,'’ tulisnya
dengan empati
penuh, ‘’kalau liburan tidak bisa ke Eropa atau
Amerika seperti aku.
Mereka hanya bisa berlibur ke Bali. Itu pun pakai
pesawat yang murah,
low cost carrier.'’

Terserahlah, Pembaca, Anda mau bekomentar apa tentang
cerita itu. Saya
hanya mau menyampaikan sebuah kegagalan empati. Bukan
karena orangnya
tidak tulus, tapi ia memang tidak memiliki pengalaman
yang memadai
tentang dunia di luar dirinya. Bakar adalah wakil dari
kegagalan itu.
Saya kembalikan kepada Anda kisah-kisah di luar. Saat
seorang menteri
berkata, ‘’Kalau tidak mampu membeli elpiji, ya jangan
gunakan elpiji,'’
apa komentar Anda?

Bagi saya, itu adalah kegagalan empati. Mungkin karena
sekadar kurangnya
wawasan dia tentang penderitaan, mungkin juga karena
kemalasan melihat
dunia luar. Bayangkan setelah si menteri berkata
seperti itu, harga
minyak tanah melambung tiga kali lipat. Kita tentu tak
berharap pejabat
itu akan berkata, ‘’Kalau tidak mampu beli minyak
tanah, jangan gunakan
minyak tanah.'’ Lalu, ketika harga beras melonjak
sekian kali lipat, ia
pun berpidato lagi, ‘’Kalau tidak mampu beli beras,
jangan makan nasi.'’

Empati adalah kemampuan menempatkan diri pada posisi
orang lain. Di
dalamnya tercakup kecerdasan emosional dan sosial.
Nah, jika Anda
berempati kepada orang miskin, maka Anda akan
memerankan diri sepenuh
perasaan sebagai orang miskin. Persoalannya, apa
fantasme Anda tentang
kemiskinan? Penguasa kolonial mendefiniskan kemiskinan
sebagai buah
kemalasan. Saat mendengar kata ‘’miskin'’, mereka
teringat pada kerbau
yang hanya bergerak kalau dipacu dan lebih suka
berkubang di lumpur
hitam.

Pemerintah kita mendefinisikan kemiskinan sebagai
hasil perhitungan dari
sebuah nilai subsidi. Maka, ditemukanlah angka
penghasilan Rp 175 ribu
sebagai batas kemiskinan. Kurang dari angka itu
berarti miskin dan
berhak mendapat santunan Rp 100 ribu.Persoalannya,
orang yang
berpenghasilan di antara Rp 175 ribu dan Rp 275 ribu
masuk kategori apa?
Tidak jelas, kecuali satu hal: Mereka kini menjadi
penduduk termiskin di
negeri ini.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here