“Nikmat bertakbir dan bertahmid ini tak bisa
dibeli dengan uang berjuta-juta, tidak dengan
hidangan dan minuman yang serba menggiurkan,
apalagi dengan gemuruhnya bunyi petasan, dan
cara-cara pemborosan yang sia-sia, yang terlarang
oleh agama kita. ”
Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Laa illaha illa’llah
Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Wa-li’llahil hammdu !
Maha Besar Allah………..Tidak ada Tuhan,
melainkan Allah…….. Dan kepada Allah tertuju
segala puji dan syukur………
Alhamdulillah. Insya Allah sekali lagi kita dapat
menjumpai Hari Raya Idul Fitri. Kita sambut hari
yang mulia ini dengan takbir dan tahmid. Ratusan
juta ummat Islam yang bertebaran di seluruh dunia
mengumandangkan kalimah takbir dan tahmid ini
bersama-sama, serentak beralun, penuh khidmat.
Nikmat bertakbir dan bertahmid ini tak bisa dibeli
dengan uang berjuta-juta, tidak dengan hidangan
dan minuman yang serba menggiurkan, apalagi dengan
gemuruhnya bunyi petasan, dan cara-cara pemborosan
yang sia-sia, yang terlarang oleh agama kita.
Kelezatan bertakbir dan bertahmid hanya akan
didapat dengan hubungan rohani yang suci-murni,
kepada pertalian batin yang langsung antara mahluk
dan Khaliqnya.
Setiap tahun Idul Fitri mengunjungi kita. Dan kita
menyambutnya dalam keaadan dan suasana yang kerap
berbeda. Ia pernah datang di waktu kita sedang
dijajah bangsa lain, di saat perjuangan memcapai
kemerdekaan, atau krisis ekonomi. Dan kini, Idul
Fitri menghampiri kita di saat jumlah penduduk
miskin bangsa indonesia terus bertambah sebagai
akibat melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM).
Namun meskipun begitu, dalam keadaan apapun juga,
teriakan jiwa ummat Muhammad SAW dalam menyerukan
takbir dan tahmid tetap saja tak akan ada yang
mampu menahannya.
Mari kita sambut dan rayakan Idul Fitri tahun ini
dengan penuh rasa syukur dan qanaah. Yakni dengan
merasa bahagia dengan apa yang ada, bersih
daripada cara-cara yang berlebih-lebihan. Mari
kita cari kebahagiaan berhari raya dengan
memberikan sebagian dari harta kita kepada
saudara-saudara kita yang lemah, yang berhak
atasnya. Entah berupa zakat fitrah ataupun shadaqah.
Karena Islam memang menuntun kita, untuk mencari
dan merasakan kebahagiaan dengan mencetuskan rasa
bahagia dalam qolbu sesama manusia, yakni dengan
memberi. Apapun bentuknya pemberian itu.
***
Dalam sebuah riwayat pernah disebutkan, pada salah
satu hari raya Idul Fitri, Rasulullah SAW melihat
seorang anak sedang berdiri sendirian dengan muka
yang sedih, menahan air mata yang sedang
berlinang. Padahal dari kejauhan, teman-teman
sebayanya sedang bergembira ria merayakan Idul
Fitri, berpakaian baru pembelian ayah, menikmati
masakan lezat buatan Bunda.
Memang sudah agak lama anak kecil itu hidup
sebagai anak yatim piatu. Tetapi pada saat-saat
seperti hari raya, alangkah pedih rasanya, melihat
orang lain bergembira ria, serba cukup. Namun ia
sendiri harus kehilangan ayah sebagai tempat
meminta, bunda tempat mengadu, dan tak ada rumah
untuk tempat pulang
Rasulullah kemudian menghampiri bocah cilik itu
dan kemudian bertanya : Kenapa engkau berdiri
sendirian di sini, tanya beliau. Di manakah
rumahmu? lanjut beliau. Tidak ada, katanya,
aku yatim piatu, ujarnya.
Mendengar tuturan bocah ini Rasulullah sekan
terkunci kerongkongannya, tak dapat menjawab.
Hanya air matanya yang bercucuran.
Rasulullah kemudian meletakan telapak tangan
kanannya di atas kepala anak yatim itu. Dengan
suara penuh cinta kasih, beliau bertanya : Maukah
engkau, bila Aisyah menjadi ibumu, dan Muhammad
menjadi bapakmu, dan tempat tinggal Rasulullah
jadi rumahmu ?
…….Alangkah bahagianya sang bocah, mendengar
kata-kata Rasulullah, yang diucapkan dengan
spontan dan penuh mesra itu. Dia serasa bukan
yatim lagi. Dia sudah mempunyai ibu dan bapak
kembali. Ia belum menerima apa-apa berupa materi.
Tapi dia sudah menerima sesuatu yang tidak
ternilai harganya.
Dan alangkah bahagianya Rasulullah sendiri tatkala
melihat si yatim segera menghapus air matanya, dan
mengucap syukur dengan wajah tersenyum bergembira
berseri-seri.
***
Maka, pada hari baik dan bulan baik ini, dan
seterusnya, marilah kita sama-sama mengikuti
contoh yang diberikan oleh Rasulullah SAW.
Ingatlah bahwa nilai hakiki dari satu pemberian
tidaklah semata-mata ditentukan oleh besar atau
kecilnya harga materi yang diberikan. Anjuran
memberi shadaqah itu bukan pada Idul Fitri saja,
namun juga pada hari-hari sesudahnya.
Seorang ulama besar tanah air, Alm. KH Moh Natsir,
dalam sebuah Khutbahnya di proyek Senen pada tahun
1971, berpendapat bahwa Shadaqah itu sendiri bukan
tujuan, tapi adalah alat. Tujuannya lebih luas,
dan lebih mendalam daripada sekedar relief, atau
mengurangi penderitaan sesama manusia
sewaktu-waktu perlu.
Tujuan shadaqah menurutnya, mengembangkan satu
kekuatan batin dalam pribadi yang bersedekah yang
bernama rasa kemanusiaan, syu’ur insani, yang
selain dari mempertinggi martabatnya sebagai
manusia, juga merupakan sumber kebajikan yang
aktif, dan mampu menjalin kesatuan kehidupan
bermasyarakat, dengan tali cinta kasih dan
persaudaraan. Itulah fungsi dari shadaqah dalam
kehidupan sosial, sebagaimana yang ditekankan oleh
Rasulullah SAW.
Mudah-mudahan pada Idul Fitri 1426 H ini, kita
semua tak hanya sibuk untuk mempersiapkan mudik ke
kampung halaman, berbelanja pakaian baru, atau
menghidangkan beraneka macam makanan. Namun juga
kita merasa terpanggil dan merasa bahagia untuk
memberikan sesuatu kepada saudara-saudara kita,
dan berlomba-lomba untuk menjadi insan yang paling
bermanfaat bagi orang lain. Wallahu a’lam.