renungan iedul fitri
Bagi seseorang yang khusyuk dalam ibadah hajinya
tentu akan merasa sedih, disaat tiba waktunya
melaksanakan thawaf wada. Setiap selesai satu
keliling dada bertambah penat, air mata
menggenang, sebab sebentar lagi diri akan
meninggalkan tanah haram, untuk kembali ke kampung
halaman. Langkah Pak Haji menjadi berat disaat
akan berlalu dari Masjidil Haram. Pandangnya
seakan tak mau lepas dari menatap Kabah, dan
sebelum kaki benar-benar melangkah keluar dari
batas babussalam, tak henti-hentinya dia menoleh
ke belakang.
Semakin jauh jarak pandang Pak Haji dari Kabah,
semakin tak keruan perasaan, semakin meluap-luap
keharuan yang memenuhi ruang dadanya. Tasbih dan
doa tertulus yang pernah saya gumamkan adalah pada
saat ketika dan selesai melaksanakan thawaf
wada.lirih ceritanya pada seorang reporter.Dan
perpisahan yang paling berat buat saya adalah
perpisahan dengan Kabah dan tanah haram.
Bagi mereka yang khusyuk dalam shaum dan qiyamul
lail-nya pasti juga merasakan sedih, mengingat
bulan Ramadhan yang akan segera mencapai
penghujungnya. Diatas sajadah masjid tempat
itikaf, mereka akan banyak menangis, mengenang
detik-detik yang seakan terlalu cepat berlalu,
dalam bulan suci nan syahdu yang datangnya cuma
setahun sekali ini. Makin berat dada mereka,
disaat tersadar, bahwa tahun depan belum tentu
masih ada umur dan kesempatan, sehingga mereka
bisa mengulang lagi kebersamaan ibadah, kemesraan
berkhalwat dengan Allah, sebagaimana bulan
Ramadhan kali ini.
Kalau sudah begitu apalah arti baju baru, makanan
enak dan serba persiapan menjelang Lebaran.
Apalah pula arti belanja, mudik bahkan kemeriahan
di hari Lebaran, bila belum-belum mereka sudah
merindukan kedatangan Ramadhan, berharap Allah
memberikan umur lagi untuk syahrul mubarak berikutnya.
Idul Fitri pada hakikatnya disediakan Allah untuk
mereka yang rindu bertemu dengan Ramadhan
berikutnya. Rindu bertemu Ramadhan berarti rindu
berjumpa Allah, karena hakikatnya pula
ibadah-ibadah yang disunnahkan pada
syahrur-Ramadhan itu tujuannya untuk mendekatkan
diri kepada Allah. Idul Fitri tidak diadakan untuk
mereka yang lalai beribadah, sebagaimana bunyi
puisi Arab : Laysalied liman labisal jadid,
walakinnalied liman amaluhu tazid yang artinya
: Hari raya diadakan bukan untuk orang yang
berpakaian baru, ia diadakan untuk orang yang
senantiasa bertambah amal salehnya. Namun
ironisnya, justru mereka yang kerap melalaikan
shaum, mangkir tarawih dan malas tadarus-lah yang
berhura-hura, seolah merayakan kemenangan, setiap
tiba hari Lebaran.
Bila Lebaran diadakan untuk mereka yang rindu
berjumpa dengan Allah, tentu perayaannya harus
dilakukan secara khusyuk, penuh kerendahan hati.
Jika ada saatnya menikmati hidangan istimewa atau
gelak tawa dikala silaturrahmi, itupun semata-mata
hanya sebuah momen untuk menambah ungkapan syukur,
atas limpahan berkah dan rahmat-Nya yang sungguh
tak terkira, dikala sebelum, sedang dan sesudah
kita merayakan Idul Fitri kelak. Maka ziarah
kuburpun- bagi sebagian orang yang kerap
melakukannya saat Lebaran- akan menjadi sebuah
saat permenungan, bahwa kitapun kelak tak akan
pernah merayakan Lebaran lagi, menikmati ibadah
Ramadhan lagi, sebagaimana mereka yang telah pergi.
Akhirul kalam, selamat merayakan hari kemenangan,
sahabat. Semoga kita suka merayakannya dengan
khusyuk, dengan fitri, dengan penuh kerendahan
hati. Tak pantas kita berfoya-foya ditengah jumlah
rakyat miskin yang kian bertambah. Tak layak bagi
kita berlebih-lebihan, ketika sepiring ketupat
telah menjadi makanan mewah buat sebagian kaum papa.
